Selasa, 05 Maret 2013

Konsep Masa Nifas dan Proses Laktasi dan Menyusui



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8 minggu.
Payudara adalah organ yang sangat penting bagi wanita untuk mempertahankan kelangsungan hidup keturunannya karena ASI merupakan sumber makanan bayi yang penting terutama pada bayi-bayi pada bulan-bulan pertamanya.
Sejak seorang wanita memasuki kehidupan berkeluarga, seharusnya ia harus menanamkan suatu keyakinan bahwa ia harus menyusui, karena menyusui adalah realisasi dari tugas yang wajar dan mulia dari seorang ibu.
Dewasa ini, di Indonesia sekitar 80-90 % ibu-ibu di perdesaan masih menuusui bayi nya lebih dar 1 tahun, namun hal ini tidak sama dengan ibu-ibu di kota-kota. Para ibu mempunyai berbagai alasan seperti ibu harus bekerja, pengaruh kosmetologi, pemakaian pil KB. Angka kematian anak-anak di Indonesia semakin lama semakin meningkat, terlebih anak-anak yang mengkonsumsi susu formula yang biasanya dapat mengakibatkan bayi diare.

1.2  Tujuan
1.2.1              Tujuan Umum
Menjelaskan tentang konsep masa nifas dan proses laktasi dan menyusui
1.2.2              Tujuan Khusus
Untuk menambah wawasan tentang konsep masa nifas dan proses laktasi dan menyusui






BAB II
ISI


2.1 Konsep Masa Nifas
            2.1.1    Pengertian Masa Nifas
            Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8 minggu. (ASKEB pada Ibu Nifas, Andi)
            Puerperium adalah masa sesudah persalinan yang di perlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu (Obstetri Fisiologi, 1983 )
            Masa nifas adalah periode waktu selama 6-8 minggu setelah persalinan. (Biologo Reproduksi, 2011)
            Jadi, masa nifas adalah masa pemulihan alat-alat kandungan  sesudah persalinan yangmana dimulai sejak keluarnya plasenta dan akan berakhir setelah alat-alat tersebut kembali pada keaadaan semula (6-8 Minggu).

            2.1.2    Tujuan Asuhan  Masa  Nifas
            Tujuan pemberiaan masa nifas, yuitu :
1.      Meningkatkan kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi.
2.      Pencegahan, diagnose dini, dan pengobatan komplikasi pada ibu
3.      Merujuk ibu ke asuhan tenaga ahli bilamana perlu
4.      Mendukung dan memperkuat keyakinan ibu, serta memungkinkan ibu untuk mampu melaksanakan perannya dalam situasi keluarga dan budaya yang khusus
5.      Imunisasi ibu terhadap tetanus
6.      Mendorong pelaksanaan metode yang sehat tentang pemberian makanan anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang baik antara ibu dan anak

            2.1.3    Peranan dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
            Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas yaitu :
1.      Teman terdekat, sekaligus pendamping ibu nifas dalam menghadapi saat-saat kritis masa nifas.
2.      Pendidik dalam usaha pemberian pendidikan  kesehatan terhadap ibu dan keluarga
3.      Pelaksaan asuhan kepada pasien dalam hal tindakan perawatan, pemantauan, penangan masalah, rujukan dan deteksi dini komplikasi masa nifas.

            2.1.4    Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kunjungan
Waktu
Tujuan
1
6-8 jam setelah persalinanan
1.      Mencegah perdarahan masa nifas karena atoni uteri
2.      Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan,rujuk jika perdarahan berlanjut.
3.      Memberikan konseling pada ibu atau salah seorang anggota keluarga mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atoni uteri
4.      Pemberian ASI awal
5.      Melakukan hubungan antara ibu dan bayiyang baru lahir
6.      Menjaga bayi tetap sehat denagn cara mencegah hypothrmi.
7.      Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal denagn ibu dan bayi yang baru lahir selam 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.
2
6 hari setelah persalinan
1.      Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2.      Menilai adanya tanda-tanda demam  infeksi atau perdarahan abnormal
3.      Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan cairan dan istirahat
4.      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
5.      Memberikan konseling pada ibu mengenai aasuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari
3
2 minggu setelah persalinan
1.      Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
2.      Menilai adanya tanda-tanda demam  infeksi atau perdarahan abnormal
3.      Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan cairan dan istirahat.
4.      Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit
5.      Memberikan konseling pada ibu mengenai aasuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari
4
6 minggu setelah persalinan
1.      Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-kesulitan yang ia atau bayinya alami
2.      Memberikan konseling KB secara dini.

            2.1.5    Tahapan Masa Nifas
            Masa nifas terdiri dari 3 tahap, yaitu :
1)      Puerperium Dini, yaitu masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2)      Puerperium Intermedial, yaitu masa kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia, yang lamanya sekitar 6-8 minggu
3)      Remote Puerperium, yaitu masa yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bulanan, bahkan tahunan

            2.1.6    Evidenbase Asuhan Masa Nifas
            Adalah suatu istilah yang luas yang digunakan dalam proses pemberian informasi berdasarkan bukti dari penelitian (Gray, 1997)

2.2 Proses Laktasi dan Menyusui
            2.2.1    Anatomi dan Fisiologi Payudara
                       
            Payudara terdiri dari beberapa bagian, yaitu diantaranya :
1.      Pabrik ASI (alveoli)
a.       Berbentuk seperti buah anggur
b.      Dindingnya terdiri dari sel-sel yang memproduksi ASI apabila di rangsang oleh hormone prolaktin.
2.      Saluran ASI (duktus lactiferous)
Saluran ini berfungsi untuk menyalurkan ASI dari pabrik ke gudang.
3.      Gudang ASI (sinus lactiferous)
Gudang ASI merupakan tempat penyimpanan ASI yang terletak di bawah kalang payudara (alveoli)
4.      Otot polos (myoepithel)
a.       Otot yang mengelilingai pabrik ASI
b.      Jika di rangsang oleh hormone oksitosin maka otot yang melingkari pabrik ASI akan mengerut dan menyemprotkan ASI di dalamnya.
c.       Selanjutnya, ASI akan mengalir ke saluran payudara dan berakhir di gudang ASI

            2.2.2    Cara Merawat Payudara
            Cara-cara perawatan payudara yaitu :
1.      Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama bagian putting susu.
2.      Menggunakan BH yang menyokong payudara
3.      Apabila putting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang nkeluar di sekitar putting setiap kali selesai menyusui. Menyusui tetap dilakukan dimulai dari putting susu yang btidak lecet
4.      Apabial lecet sangat berat, dapat di istirahatkan selama 24 jam. ASI dikeluarkan dan diminumkan menggunakan sendok.
5.      Untuk menghilangkan nyeri, ibu dapat minum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam
6.      Apabila payudara bengkak akibat  pembendungan ASI maka ibu dapat melakukan :
a.       pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit
b.      urut payudara dari arah pangkal ke putting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting.
c.       Keluarka ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susus menjadi lunak.
d.      Susukan bayi setiap 2-3 jam. Apabila bayi tidak dapat emengisap seluruh ASI, sisanya keluarkandengan tangan
e.       Letakan kain dingin pada payudara setelah menyusui.

            2.2.3    Cara Menyusui yang Benar dan Inisiasi
1.      Posisi ibu dan bayi yang benar
a.       Berbaring miring
Cara ini merupakan cara yang baik untuk pemberian ASI pertama kali, terutama pada iiibu yang melahirkan dengan operasi. Namun ibu harus didampingi oleh orang lain, karena bisa saja jalan nafas bayi tertutup oleh payudara ibu.
b.      Duduk
Dalam posisi menyusui duduk ibu bisa memilih berberapa posisi tangan yayng nyaman bagi ibu. Diantaranya :
·         Posisi tangan memegang bola
·         Posisi tangan memegang doble bola
·         Posisi madona
·         Posisi tangan transisi
·         Posisi crisscross hold
2.      Proses pendekatan bayi dengan ibu
Ibu yang melakukan cara menyusui duduk hendaknya mendapatkan sandaran agar ibu nyaman, sehingga membantu pembentukan payudara ibu dan ibu punya ruang untuk menggerakan  bayi dengan luasa.
Sasarnanya yaitu untuk memposissikan bibir bawah bayi melekat ke putting susu ibu, sehingga bayi dapat mengulun sebagian besar putting susu ibu .
Langkah-langkah dalam pelekatan / menyusui yang benar adalah sebagai berikut :
·         Keluarkan ASI sedikit untuk membersihkan putting susu sebelum menyusui.
·         Pegang payudara dengan c.hold di belakang areola.
·         Hidung bayi dan putting susu ibu berhadapan
·         Sentuh pipi atau hidung bayi merangsang rooting reflek
·         Tunggu sampai mulut terbuka lebar dan lidah menjulur
·         Dekatkan bayi ke ibu dan arahkan putting susu ke atas menyusuri langit-langit mulut bayi
·         Putting susu, areola dan sebagian besar gudang ASI tertangkap oleh mulut bayi
·         Posisi mulut dengan pelekatan yang benar
·         Jika bayi dirasa sudah cukup kenyang, maka hentikan proses menyusui dengan memasukan kelingking ke dalam mulut bayi menyusuri langit-langit mulut bayi
·         Kadang bayi akan tertidur sendiri sebelum proses menyusui diakhiri (berarti bayi merasa puas)
Tanda-tanda pelekatan yang benar :
·         Tampak areola masuk sebanyak mungkin, areola bagian atas lebih banyak terlihat
·         Mulut terbuka lebar
·         Bibir atas dan bawah terputar keluar
·         Dagu bayi menempel pada payudara
·         Gudang ASI termasuk dalam jaringan yang masuk
·         Jaringan payudara merenggang sehingga membentuk “dot” yang panjang
·         Putting susu sekitar 1/3 – ¼ bagian “dot” saja.
·         Bayi menyusu pada payudara , bukan putting susu
·         Lidah bayi terjulur melewati gusi bawah (di bawah gudang ASI)
Tanda-tanda pelekatan yang salah, antara lain :
·         Tampak sebagian besar kalang payudara  areola berada di luar
·         Hanya putting susu atau sedikit areola yang masuk mulut bayi
·         Seluruh atau sebagian besar gudang ASI berada di luar mulut bayi.
·         Lidah tidak melewati gusi
·         Hanya putting susu yang menjadi “dot”
·         Bayi menyusu pada putting
·         Bibir bayi monyong
·         Bibir bawah terlipat ke dalam sehingga menghalangi pengeluaran ASI oleh lidah.
Inisiasi dini
Langkah inisiasi dini yaitu dengan cara  bayi ditempatkan pada perut iibunya dengan posisi tertelungkup. Lalu ditutup degan selimut, kemudian birakan bayi merangkat untuk mencari putting susu ibu lalu menyusu.
2.2.4        Manfaat Pemberian ASI
            ASI sangatlah banyak manfaatnya, baik bagi ibu maupun bayi. Manfaat ASI bagi :
1.      Bagi bayi
Manfaat ASI bagi bayi yaitu :
a)      ASI yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan
b)      Kalori dari ASI  memenuhi kebutuhan bayi sampai usia 6 bulan
c)      ASI (Kolostrum) mengandung zat pelindung (antibodi)
d)     Memperkuat ikatan bathin antara ibu dan bayi
e)      ASI mudah dicerna oleh bayi

2.      Bagi ibu
a.       Untuk memulihkan diri dari proses persalinannya. Seperti membuat rahim berkontraksi dengan cepat dan memperlambat perdarahan
b.      Ibu lebih cepat pulih atau menurunkan berat badan
c.       Bagi ibu yang menstruasinya belum muncul kembali akan kecil kemungkinannya untuk menjadi hamil
d.      Cara yang baik untuk mencurahkan kasih sayang pada sang buah hati dan merasa dibutuhkan .
e.       Menunda  kemungkinan kanker payudara dan ovarium

3.      Bagi semua orang
a.       ASI selalu bersih dan bebas ham sehingga dapat terhindar dari infeksi
b.      Pemberiannya tidak memerlukan persiapan khusus
c.       ASI selalu tersedia dan gratis
d.      Mengurangi kemungkinan ibu untuk hamil dalam 6 bulan pertama setelah melahirkan

2.2.5        Komponen Gizi dalam ASI
Gizi yang terkandung dalam ASI yaitu :
1)      Protein
Kandungan protein pada ASI lebih rendah dibandingkan dengan susu mamlia lainnya. ASI mengandung whey protein dan casein. Whey protein adalah protein yang memabantu menyebabkan isi pencernaan bayi menjadi lebih lembut atau mudah dicerna oleh usus. Casein yaitu protein yang sukar dicerna. Perbandingan whey protein : casein pada ASI yaitu 60 : 40, sedangkan pada susu formula 20 : 80 dan 18 : 82.
Whey ASI terdiri dari alpha-lactalbumin, serum albumin, laktoferin, immunoglobulin dan lisozom. Sedangkan whey susu sapi hanya mengandung beta-lactoglobulin.
2)      Lemak
Lemak ASI terdiri dari trigliserid (98-99 %) yang mana dengan enzim lipase yang terdapat di ASI akan menguraiakannya menjadi trigliserol dan asam lemak. Keunggulan ASI yaitu mudah di cerna karena dalam bentuk emulsi, kandungan asam lemak esensial (omega-3 menjadi DHA dan omega-6 menjadi AA), DHA dan AA yang berperan dalam pertumbuhan otak.
3)      Vitamin
a.       Vitamin yang larut dalam lemak
Vitamin yang larut dalam lemak yaitu A, D, E, K. vitamin A sangat penting / banyak  dalam ASI, sedangkan D, dan K sedikit yang terkandung dalam ASI.
b.      Vitamin yang larut dalam air
Yaitu vitanmin C, asam nicotinic, B12, B1, B2, B6  sanagt dipengaruhi oleh makanan ibu.

4)      Zat besi
Zat besi yang terkandung di ASI tidak begitu banyak, namun sangat berguna untuk mencegah anemia.
5)      Zat anti infeksi
Bayi baru lahir mempunyai cadangan  IgA sedikit, karena itulah bayi membutuhkan tambahan sIgA dalam ASI untuk terhindar dari infeksi.
6)      Laktoferin
Lactoferin banyak terkandung dalam ASI, yangmana fungsinya sama dengan IgA untuk menyerap zat besi dari pencernaan.
7)      Factor bifidus
Gunanya untuk meningkatkan pertumbuhan bakteri baik dalam usus bayi.
8)      Lisozim
Lisozim dapat melawan serangan bacteri E.coli dan salmonella.



9)      Taurin
Taurin merupakan asam amino dari ASI yang trebanyak kedua dan tidak terdapat dalam susu sapi. Taurin berfungsi sebagai neurotransmitter dan berpran dalm maturasi otak bayi.

            2.2.6    Upaya Memperbanyak ASI
            Upaya memperbanyak ASI yaitu :
1.      Menyusui bayi setiap 2 jam dengan lama menyusui 10-15 menit tiap payudara
2.      Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa resah gerah, dan duduklah selama menyusui
3.      Pastiakan bayi menyusu dalam posisi menempel dengan baik dan dengarkan suara menelan yang aktif
4.      Susui bayi di tempat yang tenang dan nyaman dan minumlah setiapkali habis menyusui
5.      Tidurlah bersebelahan dengan bayi
6.      Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum
7.      Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya dan mengoreksi setiap kali terdapat masalah pada posisi penempelan.
8.      Yakinkan bahwa ica dapat memproduksi susu lebih banyak dengan melakukan hal-hal tersebut

Pendidikan kesehatan yang harus di berikan kepada ibu menyusui :
1.      Mengkonsumsi tambahan kalori setindaknya 500 kalori sehari
2.      Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan cukup kalori, protein, vitamin dan mineral
3.      Minum sedikitnya 3 liter setiap hari
4.      Pil zat besi harus diminum untuk menambah gizi setidaknya selama 40 hari setelah kelahiran
5.      Minum kapsul vitamin A 200.000unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayi melalui ASI


2.2.7        ASI Eksklusif
            ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan  dan minuman pendamping (termasuk air jeruk , madu air gula)yang dimulai sejak bayi baru lahir sampai dengan usia 6 bulan tanpa makanan pendamping, jika tetap diberikan makanan pendamping hal ini akan membuat pengurangan pada kapasitas lambung bayi dalam menampung cairan ASI.
            ASI juga bisa diberikan pada bayi tidak secara langsung, tapi juga bisa ditampung dan ditunda waktu pemberiannya. Namun hal ini dilakukan jika terjadi hal yang mendesak seperti ibu bekerja.

            2.2.8    Tanda Bayi Cukup ASI
            Bayi yang mengkonsumsi ASI mempunyai beberapa tanda-tanda jika ASI yang dikonsumsinya sudah cukup, diantara :
1.      Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam sehari  dan warnanya jernih sampai kung muda
2.      Bayi sering BAB berwarna kekuningan (berbiji)
3.      Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun, dan tidur cukup. Bayi setidaknya menyusu 10-12 kali dalam 24 jam
4.      Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusui
5.      Ibu dapat merasakan geli karena aliran ASI, setiap kali bayi mulai menyusu.
6.      Bayi bertambah berat badannya.

2.2.9        Masalah dalam Pemberian ASI
1.      Pada masa antenatal
Masalah yang sering mucul yaitu putting susu yang tidak menonjol, hal ini tidak begitu jadi masalah. Karena hal ini dapat dia atasi seperti menarik-narik putting, selain itu juga bisa dilakukan setelah melahirkan seperti tetap menyusui bayi, dan menarik-narik putting susu.



2.      Pada masa setelah persalinan dini
a.       Putting susu lecet
Saat putting susu ibu lecet, ibu harus melakukan cara cara sebagai berikut :
·         Ibu tetap menyusui pada payudar yang tidak begitu lecet.
·         Oleskan ASI terakhir pada putting
·         Istirahatkan putting susu sejenak, namun ASI harus di keluarkan dengan tangan.
·         Cuci payudara sekali dalam sehari, tidak menggunakan sabun.

b.      Payudara bengkak
Hal ini biasa di sebakan oleh, produksi ASI meningkat, terlambat menyusui, kurang sering mengeluarkan ASI dan pelekatan kurang baik. Hal yang sebaiknya di lakukan yaitu :
·         Mengompres dengan air hangat
·         Anjurkan ibu rileks
·         Pijat leher dan punggung ibu.
·         Pakaikan ibu BH yang tidak terlalu sempit.
·         Berikan paracetamol.

c.       Abses payudara (mastitis)
Yaitu peradangan pada payudara. Terdiri dari :
·         Non-infective mastistis (hanya karena pembendungan ASI)
·         Infective mastistis  (telah terinfeksi bacteri)
Gejala yang dirasakan yaitu payudara menjadi merah, bengkak, kadang disertai rasa panas dan nyeri. Hal ini biasanya disebabkan oleh, kurangnya pengeluaran ASI, pengisapan yang kurang efektif. Tindakan yang dilakukan sama dengan payudara bengkak.

3.      Pada masa setelah persalinan lanjut
a.       Sindrom ASI kurang
      Ibu dan bayi harus bekerja sama dalam produksi ASI. Bayi harus melakukan hisapan yang efektif.
b.      Ibu yang bekerja
      Sebenarnya  ada beberapa cara yang dapat di gunakan ibu yang bekerja , yaitu :
Menyusui bayi sebelum bekerja, mengeluarkan ASI pada saat di rumah untuk di simpan dan memakan makanan yang bergizi.
c.       Pengeluaran ASI
      Biasanuya ibu yang bekerja, mempunyai masalah tentang pengeluaran ASI, teknik pengeluaran ASI yaitu :
·         Memeras ASI dengan tangan
·         Memeras ASI dengan pompa
d.      Penyimpan ASI
      ASI yang telah disimpan tidak boleh dipanaskan atau di masak, tapi hanya direndam dengan air hangat.

4.      Masalah menyusui pada keadaan khusus
Yang termasuk pada keadaan khusus yaitu ibu melahirkan dengan bedah sesar, menderita HIV/AIDS dan ibu yang menderita hepatitis B
5.      Masalah menyusui pada bayi
a.       Bayi sering menangis
b.      Bayi bingung putting
c.        Bayi premature dan kecil
d.      Bayi kuning
e.       Bayi kembar
f.       Bayi sakit
g.      Bayi sumbing dan celah langit-langit (pallatum)
h.      Bayi dengan lidah pendek (lingual frenulum)

2.2.10    Dukungan Bidan dalam Pemberian ASI
            Pemberian ASI akan berjalan lancar jika ibu mengetahui cara menyusui yang benar. Peran bidan sangatlah penting bagi ibu  yang menyusui, maka dari itu bidan harus bisa membantu ibu. Peran bidan dalam pemberian ASI, yaitu:
1.      Yakinkan ibu bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi dari payudara ibu
2.      Bantulah ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui bayinya sendiri
Cara  bidan memberikan dukungan dalam hal pemberian ASI antara lain :
1.      Biarkan bayi bersama ibunya segera sesudah dilahirkan selama beberapa jam pertama
2.      Ajarkan  cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk mancegah masalah umum yang timbul
3.      Bantulah ibu pada waktu pertama kali member ASI
4.      Bayi harus ditempatkan didekat ibunya (rawat gabung/ rooming in)
5.      Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin
6.      Hanya berikan kolostrum dan ASI saja
7.      Hindari susu botol dan dot (empeng)









BAB III
PENUTUP

3.1              Kesimpulan
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat- alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Biasanya berlangsung selama lebih kurang 6-8 minggu.  Pada masa nifas ibu nharus diberikan asuhan agar mencegas terjadinya masalah di masa nifas.
Setelah bayi lahir, bayi harus segera di beri ASI supaya terjadi kedekatan pada ibu dan bayi, dan kebutuhan bayi terpenuhi. Agar ASI yang diberikan pada bayi itu diperoleh sevcara sempurna, maka ibu harus merawat payudara agar ASI yang di hasilkan banyak karena ASI sangat dibutuhkan bayi (ASI banyak mengandung at-zat gizi yang di perlukan oleh bayi) .
3.2              Saran
Pada masa nifas, kesehatan ibu harus sangat di perhatikan supaya bayi juga sehat dan pertumbuhannya lancar atau seimbang. Kepada para ibu dianjurkan untuk memberikan bayi mereka ASI, karena selain mengandung zat-zat yang diperlukan untuk pertumbuhan bayi, ASI  juga merupakan makanan bayi yang paling aman, hemat dan mengandung antibody.
Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, begitu juga dengan penulis. Bila dalam pembuatan Makalah ini ada kekurangan, penulis mengharapkan kritikan dan saran dari pembaca guna penyempurnaan Makalah ini.






DAFTAR PUSTAKA

FK Kedokteran UNPAD. 1983. Obstetri Fisiologi. ELeman : Bandung.
Soetjiningsih. 1997.  ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
Sulistyawati, Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Andi : Yogyakarta.
Wulanda, Febri Ayu. 2011. Biologi Reproduksi. Salemba Medika : Jakarta.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar